Press "Enter" to skip to content

Pemerintah Dorong Bumdes Berorientasi Ekspor

JAKARTA – Pemerintah berupaya mendorong produk perdesaan untuk pasar ekspor. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar mengatakan akan mendorong badan usaha milik desa (bumdes) untuk memasarkan produknya di marketplace online Lokapasar. “Kami bekerja sama dengan pihak terkait untuk mendorong bumdes agar berorientasi ekspor,” kata dia, kemarin.

Menurut Halim, bumdes binaan pemerintah telah bekerja sama dengan salah satu marketplace. Dalam kerja sama tersebut, bumdes mendapat pelatihan, edukasi, dan pendampingan dalam menggunakan teknologi digital.

Saat ini, kata Halim, sudah ada lebih dari tujuh kabupaten di Indonesia yang diberikan pelatihan edukasi dan pendampingan bersama marketplace, antara lain Situbondo, Bondowoso, Bangkalan, Sampang, Pandeglang, Banyuwangi, dan Lebak. “Dan akan terus bertambah ke kabupaten lain.” ujarnya.

Staf Ahli Kementerian Desa dan PDTT, Samsul Widodo, menilai polensi ekspor dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) cukup besar, seperti kacang mete, kacang kenari, kerajinan, dan fashion. Menurut dia, produk UMKM rata-rata berasal dari perdesaan. “Akan kami beri fasilitas untuk bisa on-boarding di marketplace.” ujar Widodo.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan akan mendorong UMKM sebagai eksportir baru. Menurut dia, perlu ada kolaborasi lintas lembaga untuk membuat ekosistem pendorong UMKM. Lutfi berujar, hal yang pertama kali perlu dikerjakan adalah memberikan marketplace yang menawarkan kesetaraan pada para pengisinya.

“Kita tidak membuka marketplace kemudian terjadi kecurangan, predatory pricing, dan investment dumping. Ini sedang kami bereskan. Mudah-mudahan dalam dua pekan ke depan kami punya terobosan,” ujar Lutfi.

Langkah selanjutnya, kata Lutfi, pemerintah mendorong peningkatan kualitas UMKM agar bisa menjadi eksportir unggul. Saat ini, dia melanjutkan, pemerintah bekerja sama dengan sekolah pelatihan ekspor hingga balai pengembangan ekspor untuk membina UMKM. Lutfi juga menyoroti masalah pembiayaan dari perbankan. Tahun ini kami meniapkan lebih dari Rp 300 triliun untuk UMKM.

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank berkomitmen mendukung pemulihan sektor ekonomi, terutama UMKM, Kepala Divisi Advisory Services Indonesia Eximbank, Gerald Setiawan Grisanto, menvatakan akan membantu UMKM menembus pasar global sekaligus memfasilitasi agar produknya dapat dipromosikan di marketplace global.

Bagi UMKM yang belum melakukan ekspor tapi memiliki potensi, LPEI telah bersinergi dengan Kementerian Perdagangan dan Bea-Cukai dalam berbagai program. Salah satunya, kata Gerald, adalah Coaching Program for New Exporters (CPNE) agar UMKM dapat melakukan ekspor, mampu mengelola bisnis lebih baik, dan memperkuat relasi. “Jika belum melakukan ekspor, UMKM dapat mengikuti program jasa konsultasi dengan biaya yang sangat ringan. Tahun ini UMKM di Solo, Bali, dan Medan akan mendapat pelatihan dari LPEI,” kata dia.

Head of Public Policy and Government Relations Shopee Indonesia, Radityo Triatmojo, mengatakan sudah mendukung UMKM melalui edukasi serta mendorong mereka masuk ke pasar ekspor. Menurut dia, pada 2020, program ekspor yang diinisiasi Shopee telah merambah Malaysia, Singapura, dan Filipina. “Program tersebut ditargetkan bisa menembus Thailand dan Vietnam,” ujarnya.

Radityo mengatakan Shopee berencana masuk dan berkontribusi dalam program pembentukan 500 ribu eksportir baru yang ditargetkan pemerintah hingga 2030. Saat ini, ia mencatat, ada sekitar 180 ribu eksportir yang bergabung dalam program Shopee “Dari Lokal untuk Global” sejak diluncurkan pada pengujung 2019.

Sumber: https://koran.tempo.co/read/ekonomi-dan-bisnis/462633/pemerintah-dorong-bumdes-berorientasi-ekspor?read=true

Comments are closed.