Press "Enter" to skip to content

Kemendes Indonesia Terinspirasi ‘Keberhasilan’ China dalam Mengentaskan Kemiskinan di Pedesaan

Presiden Xi Jinping mengklaim “kemenangan besar” dalam kampanye mengakhiri kemiskinan di pedesaan China.

Namun, beberapa pakar mengatakan China telah menetapkan standar rendah dalam definisi kemiskinan dan diperlukan investasi berkelanjutan untuk mendanai pembangunan di daerah termiskin.

Bulan November lalu, Pemerintah China menyebutkan tidak ada lagi orang di China yang berada dalam kemiskinan ekstrem.

Hasil ini jauh lebih kecil daripada perkiraan resmi satu dekade lalu yang mengatakan setidaknya akan ada 99 juta orang yang hidup dengan pendapatan tahunan kurang dari 2.300 yuan (sekitar Rp4,5 juta) per orang.

Berbagai pemberitaan di surat kabar dan media elektronik di China yang penuh proaganda melaporkan pencapaian pengetasan kemiskinan, yang juga memuji peran Presiden Jinping karena meluncurkan inisiatif tak lama setelah mengambil alih kekuasaan pada tahun 2012.

Misalnya, sebuah laporan oleh surat kabar People’s Daily milik Partai Komunis China pekan ini yang menyebutnya sebagai “lompatan bersejarah” dari Presiden Jinping.

“Sekretaris Jenderal Xi Jinping telah berdiri di posisi tinggi yang strategis dalam membangun masyarakat yang makmur dengan cara yang menyeluruh dan mewujudkan impian China tentang peremajaan besar bangsa China,” kata surat kabar itu.

Indonesia memuji upaya China
Pemerintah Indonesia telah mengikuti dengan cermat perkembangan program pengentasan kemiskinan di China.

Salah satunya adalah dengan melakukan studi banding bagi kepala desa untuk mendapatkan “inspirasi untuk mencontoh model pembangunan pedesaan” ke China, selain ke negara-negara lain seperti Korea, Thailand, Malaysia, dan negara Asia lainnya.

Senin kemarin (22/02), kepada media milik Pemerintah China, CGTN, Menteri Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia Abdul Halim memberikan apresiasinya.

“Upaya China menjadi inspirasi kami untuk maju. Kami bekerja sama dengan China untuk menciptakan desa-desa yang sejahtera di Indonesia,” ujarnya.

Abdul, yang akrab dipanggil Gus Menteri, mengatakan proyek studi banding Indonesia dengan China telah terjadi sejak tahun 2019.

Dalam pernyataan di situs resmi Kementerian, disebutkan “studi banding bagi kepala desa, penggiat desa dan pendamping desa sudah dua kali dilaksanakan pada 2019 dengan pola pendanaan dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah China.”

“Tetapi saat ini, sedang dihentikan karena pandemi COVID-19. Meski demikian, sejauh ini kami telah belajar banyak dari China apa yang telah mereka capai di negara mereka dan bagaimana mereka membawa pengetahuan itu kepada kami di sini.”

Salah satu alasan mengapa China menjadi pilihan studi banding adalah karena China dinilai sebagai “salah satu negara besar di dunia yang berhasil mengurangi kemiskinan dalam dua dekade terakhir ini” dan salah satu kekuatan ekonomi baru dunia.

Menurut Abdul, kerjasama kemitraan antar desa-desa dengan pihak swasta yang difasilitasi pemerintah China merupakan salah satu cara yang efektif dalam pengentasan kemisikinan.

“Model-model inilah yang perlu direplikasi di Indonesia untuk menanggulangi kemiskinan khususnya di pedesaan,” katanya.

China menggunakan standar lama?

China mendefinisikan kemiskinan pedesaan yang ekstrem dengan hitungan angka per kapita tahunan kurang dari 4.000 yuan, sekitar Rp7,7 juta, atau lebih dari Rp21 ribu per hari.

Sementara ambang batas global Bank Dunia sebesar AU$2,38, atau hampir Rp25 ribu per hari.

Biro Statistik Nasional China mengatakan karena perbedaan biaya hidup pedesaan, standar China sedikit lebih tinggi.

Beberapa ahli berpendapat, China mungkin tidak seberhasil yang diklaimnya karena masih menggunakan standar lama untuk negara-negara termiskin yang statusnya telah berubah menjadi negara berpenghasilan menengah.

Standar kemiskinan pendapatan menengah Bank Dunia adalah $5,50, atau lebih dari Rp55 ribu, per orang per hari.

Dalam sebuah laporan pada bulan Januari untuk Brookings Institution, mantan pakar Bank Dunia Indermit Gill menyampaikan China hampir sebaik Amerika Serikat pada tahun 1960 ketika menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Tetapi Gill mengatakan, berdasarkan standar pendapatan Amerika Serikat saat itu, sebanyak 90 persen orang China akan dianggap miskin.

Presiden Jinping mengatakan China telah menginvestasikan 1,6 triliun yuan untuk memerangi kemiskinan selama delapan tahun terakhir, tetapi tidak menjelaskan rencana angka pengeluaran untuk lima tahun ke depan.

China mendefinisikan kemiskinan pedesaan yang ekstrem dengan hitungan angka per kapita tahunan kurang dari 4.000 yuan, sekitar Rp7,7 juta, atau lebih dari Rp21 ribu per hari.

Sementara ambang batas global Bank Dunia sebesar AU$2,38, atau hampir Rp25 ribu per hari.

Biro Statistik Nasional China mengatakan karena perbedaan biaya hidup pedesaan, standar China sedikit lebih tinggi.

Beberapa ahli berpendapat, China mungkin tidak seberhasil yang diklaimnya karena masih menggunakan standar lama untuk negara-negara termiskin yang statusnya telah berubah menjadi negara berpenghasilan menengah.

Standar kemiskinan pendapatan menengah Bank Dunia adalah $5,50, atau lebih dari Rp55 ribu, per orang per hari.

Dalam sebuah laporan pada bulan Januari untuk Brookings Institution, mantan pakar Bank Dunia Indermit Gill menyampaikan China hampir sebaik Amerika Serikat pada tahun 1960 ketika menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Tetapi Gill mengatakan, berdasarkan standar pendapatan Amerika Serikat saat itu, sebanyak 90 persen orang China akan dianggap miskin.

Presiden Jinping mengatakan China telah menginvestasikan 1,6 triliun yuan untuk memerangi kemiskinan selama delapan tahun terakhir, tetapi tidak menjelaskan rencana angka pengeluaran untuk lima tahun ke depan.

Sumber: abc.net.au/indonesian/2021-02-26/indonesia-terinspirasi-china-mengentaskan-kemiskinan-di-pedesaan/13197986

Comments are closed.