Press "Enter" to skip to content

Di Tangan Sudarmanto, Pendamping Desa Kabupaten Boyolali, Sampah Disulap Jadi Rupiah

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Pemberdayaan masyarakat untuk penguatan ekonomi warga bisa dilakukan dengan berbagai cara. Seperti yang dilakukan Sudarmanto, warga Dukuh Sirah RT 21 RW 04 Desa Kedunglengkong, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ini. Seperti apa model pemberdayaannya?

Sampah mungkin masih dipandang sebelah mata bagi sebagian masyarakat. Jika belum mengetahui manfaatnya, hanya dibakar atau dibuang begitu saja, sehingga berdampak pada lingkungan. Bisa menyebabkan banjir, sumber penyakit di lingkungan dan lain sebagainya.

Namun di tangan Sudarmanto, sampah bisa dimanfaatkan bernilai rupiah. Bagi dia, “Sampah adalah Emas yang Tidak Tersentuh”. Maka Pendamping Desa Pemberdayaan Kecamatan Kemusu ini memberdayakan masyarakat melalui pengelolaan sampah. Yakni 3R meliputi reduce (mengurangi), menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang sampah (recycle).

Tujuan pemberdayaan ini adalah mengelola dan mengurangi sampah bersama warga masyarakat sekitar desa. Masyarakat mendapatkan keuntungan secara ekonomi juga pengetahuan mengenai sampah untuk dilakukan pemilahan.

Pria kelahiran Boyolali, 27 Februari 1984 tersebut melakukan pemberdayaan sampah sejak lima tahun silam. Saat ini sudah berjalan dengan baik, bahkan sering diundang sebagai narasumber di Kecamatan Secang, Tegalrejo Kabupaten Magelang dan juga sekitar Kabupaten Boyolali.

Juga dijadikan lokasi study banding pengelolaan sampah dan sampai model bisnis yang dijalankan oleh BUMDes di Kabupaten Grobogan, Kudus, Magelang dan lain sebagainya.

Usaha pengolahan sampah yang dilakukan Darmanto sudah mampu menyerap tenaga kerja tujuh orang. “Kalau total pengrajin bijih plastik di sini sebanyak 45 orang. Setelah jadi bijih plastik bisa untuk bahan baku ember dan pabrik yang memproduksi berkaitan bahan baku plastic,” terang Darmanto, Rabu 3 Maret 2021.

Sumber sampah yang dimanfaatkan untuk bijih plastik ini di antaranya dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Semarang, dan sekitar Soloraya. Sedangkan pangsa pasar bijih plastik ini di setiap kota ada. “Sudah ada pabrik yang siap menerima bijih plastik, misalnya di Solo, Boyolali, Semarang, Kudus dan kota-kota lainnya,” katanya.

Pabrik yang menerima bijih plastik ini semua jenis bahan yang mengandalkan bahan baku bijih plastik. Misalnya kursi, karung, pot bunga dan barang yang bahan bakunya daur ulang sampah.

Sebagai seorang pemberdaya kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mensukseskan Suistanble Development Goals (SDGs) yang dicanangkan Bapak Menteri Desa Abdul Halim Iskandar yakni 18 kategori SDGS Desa. Dari 18 capain tersebut yang paling berkait adalah Desa Tanpa Kemiskinan, Desa Tanpa Kelaparan, dan Desa Sehat dan Sejahtera.

“Apa yang dijalankan saudara Sudarmanto ini sangat luar biasa. Karena untuk pemberdayaan masyarakat. Menyerap tenaga kerja dan menumbuhkan ekonomi,” terang Hendro Riyanto, salah satu TA PMD TPP Boyolali.

Dikatakan, juga pemberdayaan yang dilakukan untuk turut serta mensukseskan visi dan misi Bupati Boyolali sebagai daerah yang pro investasi yang maju dan lebih sejahtera, dengan pencapaian misi membangun untuk perubahan.

Ke depan kami akan membuat showroom untuk ruang edukasi dan ruang transfer knowledge untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat yang lebih luas. Lahan sudah kita siapkan dan mohon dukungannya.

Sumber: https://www.fokusjateng.com/2021/03/05/di-tangan-sudarmanto-pendamping-desa-kabupaten-boyolali-sampah-disulap-jadi-rupiah/

Comments are closed.